Lagi, Sanur Berdarah: Cinta yang Berubah menjadi Amuk, Istri Tusuk Suami Lansia hingga Sekarat
Inews Denpasar– Suasana tenang yang biasa menyelimuti Gang Cinta di kawasan Batur Sati, Sanur, pada Jumat malam (22/8/2025) itu, tiba-tiba pecah oleh teriakan dan hiruk-pikuk yang mencemaskan. Bukannya diwarnai gemericik air kolam atau desau angin dari pantai terdekat, jalan kecil yang bernama penuh kasih sayang itu justru dikoyak oleh sebuah tragedi domestik yang mengerikan. Dunia pasangan wisatawan asal Inggris itu, yang seharusnya menikmati masa senja di surga tropis, berakhir dalam drama berdarah yang menggegerkan seluruh Bali.
Seorang pria lanjut usia berusia 71 tahun, berinisial JAW, ditemukan terkapar tak berdaya di teras hotel tempatnya menginap. Tubuhnya bersimbah darah, menggenangi lantai dan mengubah tempat peristirahatan menjadi TKP yang mengerikan. Ia bukan korban perampokan atau penyerangan orang tak dikenal. Dari hasil penyelidikan mendalam Polresta Denpasar, dalang di balik penikaman brutal itu justru adalah orang yang seharusnya paling dekat dan melindunginya: istrinya sendiri.
Dari Surga Tropis ke Ruang Operasi
Kronologi yang berhasil dihimpun dari keterangan polisi dan saksi-saksi menggambarkan sebuah eskalasi yang berakhir tragis. Malam itu, sekitar pukul 20.30 WITA, kembali terdengar suara percekcokan dari kamar mereka. Pertengkaran yang, menurut para saksi, sudah seperti menu harian pasangan tersebut. Namun, malam itu berbeda. Amarah yang biasanya berakhir dengan saling mendiamkan, meledak menjadi kekerasan fisik yang tak terbayangkan.

Baca Juga: Ngaben, Wujud Penghormatan Leluhur dalam Tradisi Hindu Bali
“Tak disangka, sang istri nekat menusuk suaminya berkali-kali setelah cekcok,” ujar Kasi Humas Polresta Denpasar, AKP I Ketut Sukadi, dengan nada serius. Dalam amukannya, wanita itu menghujamkan benda tajam—yang masih disita dan diperiksa polisi—beberapa kali ke tubuh suaminya. Luka-luka di bagian leher, pinggang, dan paha korban menunjukkan serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan dan berniat membunuh.
Dengan sisa tenaga yang ada, JAW berusaha keluar dari kamar, mungkin mencari pertolongan, sebelum akhirnya kolaps di teras hotel. Pemandangan mengerikan itulah yang kemudian ditemukan oleh petugas atau tamu hotel, yang langsung panik dan memanggil bantuan.
Tim BPBD Kota Denpasar pun datang memberikan pertolongan pertama. Dalam kondisi kritis dan kehilangan banyak darah, JAW kemudian dievakuasi dengan cepat ke Rumah Sakit Bali Mandara. Kapolsek Denpasar Selatan, AKP Agus Adi Apriyoga, memberikan secercah harapan, “Korban dalam kondisi sadar. Saat ini masih dilakukan observasi oleh dokter bedah serta pembersihan luka di ruang operasi.” Nyawanya tergantung pada ketelitian tim medis dan ketahanan tubuhnya di usia yang tak lagi muda.
Motif di Balik Amukan: Akumulasi Bara dalam Sekam
Lalu, apa yang mendorong seorang istri melakukan tindakan sekejam itu kepada suaminya sendiri di tanah rantau?
Polisi secara resmi mengategorikan kasus ini sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang murni. “Hasil penyelidikan, peristiwa tersebut merupakan masalah antara suami dan istri. Dari keterangan saksi, keduanya memang sering bertengkar,” tegas AKP Sukadi. Pernyataan ini mengarah pada satu kesimpulan: motifnya adalah konflik rumah tangga yang telah lama terpendam dan memanas hingga titik didihnya.
Namun, frasa “sering bertengkar” itu ibarat puncak gunung es. Apa yang sebenarnya menjadi akar percekcokan mereka? Beberapa spekulasi dan analisis psikologis bisa diajukan:
-
Stress di Perantauan: Tinggal di negara asing, jauh dari keluarga besar dan sistem pendukung yang biasa, bisa menjadi tekanan psikologis yang sangat besar. Perbedaan budaya, rasa isolasi, dan ketergantungan penuh pada pasangan dapat memicu konflik yang tidak akan terjadi jika mereka tinggal di negara asal.
-
Dinamika Kekuasaan dalam Hubungan: Sangat mungkin terjadi ketimpangan dinamika dalam hubungan mereka. Satu pihak mungkin merasa dominan, sementara pihak lain merasa tertekan dan tidak berdaya. Amarah yang dipendam bertahun-tahun akhirnya meledak dalam bentuk yang paling primitif.
-
Masalah Kesehatan Mental: Sangat penting untuk menyelidiki kondisi mental dari pelaku. Apakah ada sejarah gangguan mental, depresi, atau mungkin demensia yang tidak terdiagnosis? Tekanan sebagai caregiver bagi pasangan lansia juga bisa menjadi beban yang sangat berat.
-
Faktor Ekonomi atau Masalah Lain: Pertengkaran bisa saja berpusat pada masalah keuangan, kecemburuan, atau perselingkuhan yang tersembunyi.
Polisi masih menyelidiki motif pastinya dan belum memberikan keterangan lebih jauh mengenai identitas dan status hukum sang istri. Ia kemungkinan besar sedang diamankan dan menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap keseluruhan cerita dari sudut pandangnya.
Sanur yang Kembali Berduka: Pola yang Mengkhawatirkan?
Judul “Lagi, Sanur Berdarah” yang dimuat media seolah menyiratkan sebuah pola. Beberapa tahun terakhir, Sanur dan kawasan Bali selatan memang beberapa kali menjadi lokasi kejadian kriminal yang melibatkan WNA. Mulai dari perkelahian, pembunuhan, hingga kasus narkoba.
Tragedi ini kembali mencoreng citra Bali sebagai destinasi yang damai dan spiritual. Ia menjadi pengingat keras bahwa di balik wajah indah pariwisata, tersimpan masalah-masalah manusiawi yang universal: kesepian, amarah, dan kegagalan hubungan. Kasus ini bukan tentang Bali yang tidak aman, tetapi tentang bagaimana konflik personal dapat terjadi di mana saja, bahkan di surga sekalipun, dan berakhir dengan cara yang paling tragis.
Sementara JAW berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit, dan istrinya menghadapi konsekuensi hukum serta mental dari perbuatannya, masyarakat internasional di Bali pun mungkin akan bereaksi. Kasus ini diharapkan menjadi pengingat bagi komunitas ekspatriat untuk lebih memperhatikan kesehatan mental dan hubungan mereka, serta tidak segan mencari bantuan profesional jika konflik rumah tangga sudah tidak bisa dikelola sendiri.
Kisah ini adalah sebuah tragedi klasik yang memilukan: cinta yang berubah menjadi kebencian, pelukan yang berubah menjadi tikaman, dan impian tentang kehidupan tropis yang indah berakhir di teras hotel yang penuh darah. Semua pihak kini menunggu perkembangan kondisi korban dan proses hukum yang akan berjalan, berharap bisa menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan yang paling mendasar: apa yang bisa mengubah cinta menjadi begitu membunuh?
















